Mendaki gunung. Satu kegiatan yang oleh sebagian orang hanya
dipandang sebagai kegiatan yang sia-sia. Tatapan mereka sinis dan tak
jarang pula disertai dengan cibiran. Mereka pun berkata merendahkan,
saat melihat sekolompok orang dengan carier sarat beban, topi rimba,
baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur. Hanya
sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan
kekaguman.
Mengapa bisa begitu? Itu lantaran tidak
banyak yang bisa memahami apa yang dirasakan oleh seorang pendaki.
Karena perasaan yang luarbiasa itu hanya bisa benar-benar dirasakan oleh
mereka yang telah mendaki gunung. Sehingga karena ketidaktahuan itulah
banyak orang yang berseloroh; “Ngapain cape-cape naik gunung,
menghabiskan waktu dan uang saja. Sudah disana dingin, ee.. setelah
sampai di puncak turun lagi. Sungguh sia-sia….”
Tetapi kawan, tengoklah ketika mereka memberanikan diri untuk bersatu
dengan alam agar bisa mendapatkan pendidikan darinya. Mereka melangkah,
merayap, duduk dan berbaring hanya untuk merasa lebih dekat dengan ibu
pertiwi. Mereka sangat mandiri dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Angan-angan mereka tinggi dan harapan mereka berkobar di dalam aliran
darahnya. Semangat mereka pun terus membara dan “pantang kembali sebelum
tiba di puncak idaman”.
Selasa, 24 Juni 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar