Jumat, 31 Oktober 2014
Ibu Pertiwi
Ibu Pertiwi…
Jika angin tak lagi berhembus
Jika api tak lagi membara
Jika ar tak lagi mengalir
Jika tanah tak lagi membongkah
Apa kita masih dapat berkata?
Tentang hasrat dan milik
Tentang jiwa dan rasa
Tentang dunia yang dipijak nestapa
Tentang duka menyelimuti langkah
Ibu Petiwi…
Masih adakah celah?
Untuk menyimpan gelisah
Untuk menyembunyikan langkah
Tidak, Bu!
Meskipun celah berongga
Dada kita tetap menganga
Meskipun jari tersembunyi
Mata dan telinga tetap terjaga
Ingatlah…
Wahai Ibu Pertiwi
Kami..,
Putra putri bangsa akan melangkah
Dalam langkah satu dan satu
Bukan melompat
Setelah itu kami terjerat!
Untukmu Ibu Pertiwi
Bukit-bukit di negeriku kini tenggelam
Oleh darah dan air mata
Apa yang dapat dilakukan oleh seorang anaknya yang merantau?
Untuk masyarakatnya yang sengsara?
Apa pula gunanya keluh-kesah
Seorang penyair yang sedang tidak di rumah?
Seandainya rakyatku mati dalam pemberontakan menuntut nasibnya,
Aku akan berkata “Mati dalam perjuangan
Lebih mulia dari hidup dalam penindasan”
Tapi rakyatku tidak mati sebagai pemberontak
Kematian adalah satu-satunya penyelamat mereka,
Dan penderitaan adalah tanah air mereka
Ingatlah saudaraku,
Bahawa syiling yang kau jatuhkan
Ke telapak tangan yang menghulur di hadapanmu,
Adalah satu-satunya jambatan yang menghubungkan
Kekayaan hatimu dengan cinta di hati Tuhan.
Prosa Dawai Mute Angel
Kau indahkan malamku antara putaran rindu
Begitu berat kuungkap kejujuran hatiku
Bagaikan syair tanpa syahdu
Rajut benang keikhlasan
Rangkul damai ketulusan
Peluk kasih tulus kerinduan
Senyuman hanya sketsa kenangan
Mencintai angan-angan menjadi alur khayalan
Bayangan semu hanyalah lukisan kosong peraduan
Biarkan aku kini (menikmati kepiluan...)
Merasakan cinta (alur khayalan...)
Terpendam di hati (hanya lukisan...)
Dan tak nyata...
Riuh air membisikan kalbu yang rapuh
Janganlah bercermin di lautan keruh
Meratap di antara nurani yang mengeluh
Rengkuh sujud Layla menyimpan tangismu
Satu nama senantiasa utuh dalam perihmu
Di ufuk Hudaibiyah tersirat rintihan tangis
Kau tiup siluet nafasku pada senja terbentang
Seuntai anganku terkenang
Menepilah kembali (benang kerinduan...)
Dawai untuk Layla (damai ketulusan...)
Perasaan cinta (ikhlaskanlah...)
Dari Majnun...
Selasa, 24 Juni 2014
For Mute_Angel
Kau Yang Terindah
Kepadamu yang terindah.
Bintang malam yang paling terang.
Kau penuntun jiwaku yang tersesat.
Kau segarkan semua yang layu dijiwaku.
Laksana secawan air
Pelepas dahaga musyafir.
Tak ada syair.
Tak ada puisi.
Tak ada yang mampu ungkapkan indahmu.
Tak mampu lagi ku berkata.
Bibirku telah tersumbat kagumku.
Kepadamu sekuntum bunga surga kurangkai dengan indah.
Terangilah…tuntunlah…
Segarkan jiwaku.
Kepadamu yang terindah.
Bintang malam yang paling terang.
Kau penuntun jiwaku yang tersesat.
Kau segarkan semua yang layu dijiwaku.
Laksana secawan air
Pelepas dahaga musyafir.
Tak ada syair.
Tak ada puisi.
Tak ada yang mampu ungkapkan indahmu.
Tak mampu lagi ku berkata.
Bibirku telah tersumbat kagumku.
Kepadamu sekuntum bunga surga kurangkai dengan indah.
Terangilah…tuntunlah…
Segarkan jiwaku.
Jgy, 25 April '14
(mute_angel)
(mute_angel)
Tentang Dirimu
Dindaku…
Tak ada rangkaian bunga
Seindah tutur bahasamu.
Karena dirimu memancarkan indahnya Syurga.
Keelokan akhlak dan parasmu,
Mewakili cantiknya sang bidadari.
Hingga siapa pun akan bahagia bila di dekatmu.
Aku pun inginkan itu.
Melebihi bahagianya orang lain.
Karena kaulah yang terindah.
Dan aku selalu ingin kamu
Itu saja…
Dindaku…
Tak ada rangkaian bunga
Seindah tutur bahasamu.
Karena dirimu memancarkan indahnya Syurga.
Keelokan akhlak dan parasmu,
Mewakili cantiknya sang bidadari.
Hingga siapa pun akan bahagia bila di dekatmu.
Aku pun inginkan itu.
Melebihi bahagianya orang lain.
Karena kaulah yang terindah.
Dan aku selalu ingin kamu
Itu saja…
sragen, 05 September '14
(mute_angel)
(mute_angel)
Karena Dirimu
Aku bahagia telah dapat mencintaimu.
Aku gembira bersanding denganmu dan dekat sekali disisimu.
Karena dari hidup denganmu itulah aku mengenal kehidupan, berpikir dan menulis.
Darimulah aku mengenal kelemah lembutan lebih.
Darimu aku mengenal keindahan lebih.
Aku bahagia telah dapat mencintaimu.
Aku gembira bersanding denganmu dan dekat sekali disisimu.
Karena dari hidup denganmu itulah aku mengenal kehidupan, berpikir dan menulis.
Darimulah aku mengenal kelemah lembutan lebih.
Darimu aku mengenal keindahan lebih.
Denganmu aku terus merasa lebih bahagia.
Olehmu aku terus berusaha untuk jauh memperbaiki diri.
Olehmu aku menyadari sebuah anugerah dan mengingatkan selalu kepada Tuhan,
Dan karena dirimu pula aku bisa selalu menatap dunia dengan sikap optimis.
Bahkan hanya dari dirimulah aku jauh lebih mengenal kesedihan,
kerinduan, kecemburuan, kekalutan, kecemasan, tantangan, perasaan muak,
Olehmu aku terus berusaha untuk jauh memperbaiki diri.
Olehmu aku menyadari sebuah anugerah dan mengingatkan selalu kepada Tuhan,
Dan karena dirimu pula aku bisa selalu menatap dunia dengan sikap optimis.
Bahkan hanya dari dirimulah aku jauh lebih mengenal kesedihan,
kerinduan, kecemburuan, kekalutan, kecemasan, tantangan, perasaan muak,
kesombongan, jenuh dan tentunya sifat egois.
Untuk kemudian mengubahnya ke dalam cawan ketabahan dan kesabaran.
Untuk kemudian mengubahnya ke dalam cawan ketabahan dan kesabaran.
sragen, 01 Mei'14
(mute_angel`)
Ungkapkanlah Cintamu
Dindaku…
Cinta akan berteriak dan menangis bila tak terjamah.
Dan kita pun akan merana bila terus diam dan bertapa di antara tirai-tirai kerinduan.
Jangan risau akan bertepuk sebelah tangan.
Segeralah ungkapkan.
Ungkapkan cinta dengan bahasa cinta yang kau rangkai seiring setia jelang bersamanya.
Rangkai dengan indah dan memikat,
Dindaku…
Cinta akan berteriak dan menangis bila tak terjamah.
Dan kita pun akan merana bila terus diam dan bertapa di antara tirai-tirai kerinduan.
Jangan risau akan bertepuk sebelah tangan.
Segeralah ungkapkan.
Ungkapkan cinta dengan bahasa cinta yang kau rangkai seiring setia jelang bersamanya.
Rangkai dengan indah dan memikat,
Sebelum ia keburu disuguhi bahasa cinta oleh orang lain.
Sekarang untuk apa lagi kau bimbang,
Dalam kesendirian dan kebisuan…??
Sekarang untuk apa lagi kau bimbang,
Dalam kesendirian dan kebisuan…??
sragen, 02 Juni '14
(mute_angel)
(mute_angel)
Jiwaku
Salah satu yang paling membuat hatiku menjadi lapang dan tenang,
Adalah ketika aku bisa merasakan setiap ciptaan Allah yang Maha Agung.
Melihat, mendengar, merasakan serta menikmati,
Setiap jengkal alam pegunungan.
Salah satu yang paling membuat hatiku menjadi lapang dan tenang,
Adalah ketika aku bisa merasakan setiap ciptaan Allah yang Maha Agung.
Melihat, mendengar, merasakan serta menikmati,
Setiap jengkal alam pegunungan.
sragen, 25 Maret'14
(mute_angel)
Mendaki Gunung untuk Menghargai Hidup
Mendaki gunung. Satu kegiatan yang oleh sebagian orang hanya
dipandang sebagai kegiatan yang sia-sia. Tatapan mereka sinis dan tak
jarang pula disertai dengan cibiran. Mereka pun berkata merendahkan,
saat melihat sekolompok orang dengan carier sarat beban, topi rimba,
baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur. Hanya
sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan
kekaguman.
Mengapa bisa begitu? Itu lantaran tidak banyak yang bisa memahami apa yang dirasakan oleh seorang pendaki. Karena perasaan yang luarbiasa itu hanya bisa benar-benar dirasakan oleh mereka yang telah mendaki gunung. Sehingga karena ketidaktahuan itulah banyak orang yang berseloroh; “Ngapain cape-cape naik gunung, menghabiskan waktu dan uang saja. Sudah disana dingin, ee.. setelah sampai di puncak turun lagi. Sungguh sia-sia….”
Tetapi kawan, tengoklah ketika mereka memberanikan diri untuk bersatu dengan alam agar bisa mendapatkan pendidikan darinya. Mereka melangkah, merayap, duduk dan berbaring hanya untuk merasa lebih dekat dengan ibu pertiwi. Mereka sangat mandiri dengan kepercayaan diri yang tinggi. Angan-angan mereka tinggi dan harapan mereka berkobar di dalam aliran darahnya. Semangat mereka pun terus membara dan “pantang kembali sebelum tiba di puncak idaman”.
Mengapa bisa begitu? Itu lantaran tidak banyak yang bisa memahami apa yang dirasakan oleh seorang pendaki. Karena perasaan yang luarbiasa itu hanya bisa benar-benar dirasakan oleh mereka yang telah mendaki gunung. Sehingga karena ketidaktahuan itulah banyak orang yang berseloroh; “Ngapain cape-cape naik gunung, menghabiskan waktu dan uang saja. Sudah disana dingin, ee.. setelah sampai di puncak turun lagi. Sungguh sia-sia….”
Tetapi kawan, tengoklah ketika mereka memberanikan diri untuk bersatu dengan alam agar bisa mendapatkan pendidikan darinya. Mereka melangkah, merayap, duduk dan berbaring hanya untuk merasa lebih dekat dengan ibu pertiwi. Mereka sangat mandiri dengan kepercayaan diri yang tinggi. Angan-angan mereka tinggi dan harapan mereka berkobar di dalam aliran darahnya. Semangat mereka pun terus membara dan “pantang kembali sebelum tiba di puncak idaman”.
Cahaya Aneh dari Gunung Lawu Bikin Peneliti NASA Bingung Bramantyo - Okezone
KARANGANYAR - Misteri yang tersimpan di Gunung Lawu mengundang perhatian banyak peneliti dari luar negeri untuk mendatangi gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dan Magetan,Jawa Timur, itu.
Apalagi, setelah para peneliti National Aeronautics and Space Administration (NASA), Amerika Serikat, melihat cahaya beraturan membentuk segi delapan atau oktagon di lereng Lawu atau di kawasan Candi Sukuh.
Polet, pengamat yang juga petugas senior SAR Gunung Lawu, menjelaskan, cahaya yang terpantau satelit NASA tersebut bukan rahasia lagi. Masyarakat sekitar lereng gunung juga sering melihatnya.
Menurut pria yang akrab disapa Pak Po itu, cahaya misterius tersebut muncul di waktu-waktu tertentu. Sesekali ada pula cahaya yang mengarah langsung ke angkasa.
”Pernah terdeteksi oleh satelit milik NASA, yang melihat cahaya terang. Setelah diteliti di berbagai tempat mereka merujuk pada satu tempat yakni di sekitar wilayah Gunung Lawu. Itu pun yang terlihat di dalam Google Map hanya titik bangunan candi saja. Sementara gunungnya seperti tertutup,” ungkapnya saat ditemui Okezone di Ngargoyoso, Karanganyar.
Hal tersebut juga dibuktikan dengan adanya penemuan batu marmer dan giok di sebelah utara Gunung Lawu. Giok sendiri digunakan sebagai pelapis untuk pesawat ruang angkasa.
”Setelit Amerika memang super canggih. Dia juga punya sket Gunung Lawu. Tapi, di GPS Gunung Lawu selalu tertutup dan jarang terlihat. Seperti ada tabir yang menutupi atau menghalanginya,” tuturnya.
Lebih lanjut Pak Po menjelaskan, setelah tidak terlihat dari satelit lokasi pasti asal cahaya tersebut, para peneliti semakin penasaran. Mereka pun datang langsung ke Gunung Lawu untuk mengunjungi Candi Sukuh.
Di antara mereka berasal dari Ausltralia, bahkan peneliti NASA juga datang langsung. Mereka mengaku heran dengan kemunculan cahaya tersebut dan tidak terdeteksinya Gunung Lawu di GPS.
”Setelah itu mereka pulang. Selang beberapa waktu kemudian, mereka datang lagi membawa peralatan lebih canggih. Hasilnya tetap sama, posisi Gunung Lawu juga tidak ketemu. Justru yang terlihat dan terdeteksi hanya keberadaan candi-candi di sekitarnya. Saya yang mendampingi para peneliti juga merasa heran dengan tidak terdeteksinya Gunung Lawu ini,” ujarnya.
(ton)
Langganan:
Postingan (Atom)